Lantas Dilangitkah Allah…? ya tepatnya di atas Arsy sebab Allah telah berfirman menetapkan dimana dzat Allah berada, dan nabinya pun mengatakan yg demikian melalui lisannya, berikut dalil dalil yang akan menjadikan hujjah bagi anda untuk dalam membentengi syubhat para ahlul hawa dan bid’ah, barakallahu fiikum.
firman Allah:
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى. ]طه: 5[
(Yaitu) Ar-Rahman yang beristiwa’ di atas ‘Arsy. (Thaha: 5)
firman Allah سبحانه وتعالى:
ءَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ اْلأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ (16) أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ. ]الملك: 16-17[
Apakah kalian merasa aman terhadap Allah yang ada di langit bahwa Dia akan menjungkir-balikkan bumi bersama kalian, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang? Atau apakah kalian merasa aman terhadap Allah yang ada di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kalian akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatanKu? (al-Mulk: 16-17).
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
أَلاَ تَأْمَنُوْنِي وَأَنَا أَمِيْنٌ مَنْ فِي السَّمَآءِ يَأْتِيْنِيْ خَبَرُ السَّمَاءِ صَبَاحًا وَمَسَاءً. (رواه مسلم)
Ketahuilah, apakah kalian tidak mempercayaiku, padahal aku adalah kepercayaan Dzat yang di langit? Datang kepadaku berita langit pada waktu pagi dan sore. (HR. Muslim)
- Renungkanlah ucapan Allah dan rasulNya diatas bukan kah Allah dan Rasulnya Muhammada shalallahu 'alaihi wassalam mengatakan langsung bahwa Allah ada dilangit..? ada diarsy..? lantas darimana kita bisa tertipu dengan meyakini dan mengatkan bahwa Allah ada dimana mana, diurat leher, didalam hati..?
sifat Maha tingginya Allah secara mutlak yang mencakup tingginya Allah secara Dzat dan kekuasan-Nya. Sebagian di antaranya seperti:
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى. ]الأعلى: 1[
Sucikanlah nama Rabb-mu Yang Maha Tinggi. (al-A’laa: 1)
...وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ. ]البقرة: 255[
….dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Agung. (al-Baqarah: 255)
...إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ. ]الشورى: 51[
…Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. (asy-Syura’: 51)
يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ. ]النخل: 50[
Mereka takut kepada Rabb mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka). (an-Nahl: 50)
Dalam ayat-ayat di atas, Allah menyebutkan dirinya di atas dengan kalimat “fauqa” yang menunjukkan tingginya Dzat Allah.
- Keterangan naiknya malaikat kepada Allah
Demikian pula ayat yang menyebutkan tentang naiknya malaikat kepada Allah, menunjukkan tingginya Allah sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya.
تَعْرُجُ الْمَلاَئِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ. ]المعارج: 4[
Malaikat-malaikat dan Jibril naik kepada Rabb-nya dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun. (al-Ma’arij: 4)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلآئِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلآئِكَةٌ بِالنَّهَارِ وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلاَةِ الْفَجْرِ وَصَلاَةِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِيْ فَيَقُولُونَ تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ. ]متفق عليه)
Sesungguhnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah bersabda: “Para Malaikat datang berduyun-duyun kepada kalian pada waktu malam dan siang. Mereka berkumpul pada waktu shalat Subuh dan shalat Asar, kemudian naiklah malaikat yang bermalam bersama kalian. Lalu Allah bertanya kepada mereka -walaupun Dia lebih mengetahui terhadap segala urusan mereka- dengan pertanyaan: “Bagaimanakah keadaan hamba-hamba-Ku ketika kalian meninggalkannya?” Mereka menjawab: “Kami meninggalkan mereka ketika mereka sedang melaksanakan shalat. Dan ketika kami mendatangi mereka, mereka juga sedang shalat. (HR. Bukhari Muslim)
Dalil tentang akan naiknya amalan shalih juga menunjukkan tingginya Allah di atas makhlukNya.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ. ]فاطر: 10[
…Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amalan yang shalih dinaikkanNya… (Faathir: 10)
Demikian pula ayat-ayat yang menyatakan diturunkannya al-Qur'an dari sisi Allah, ini semuanya menunjukkan bahwa Allah di atas makhluk-Nya. Karena makna “turun” adalah dari atas ke bawah.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ. ]غافر: 2[
Diturunkan Kitab ini (Al Qur'an) dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (Ghafir: 2)
تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ
ِ
Kitab (al-Quran ini) diturunkan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (az-Zumar: 1)
قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ... ]النخل: 102[
Katakanlah: "Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur'an itu dari Rabb-mu dengan benar… (an-Nahl: 102)
Isyarat telunjuk Nabi ke langit ketika berbicara tentang Allah
Riwayat tentang Rasulullah صلى الله عليه وسلم menunjuk dengan tangannya ke atas ketika menyebut atau berbicara tentang Allah.
Seperti terjadi dalam riwayat khutbah beliau pada haji Wada’, di antaranya. Rasulullah صلى الله عليه وسلم berkata kepada para shahabat:
أَنْتُمْ مَسْؤُوْلُوْنَ عَنِّي فَمَاذَا أَنْتُمْ قَائِلُوْنَ؟ قَالُوْا: نَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ وَأَدَيْتَ وَنَصْحَتَ. فَرَفعَ أُصْبُعَهُ الْكَرِيْمِ إِلَى السَّمَاءِ ...وَهُوَ يَقُوْلُ: أَللَّهُمَّ أَشْهَدُ. (رواه مسلم وأبو داود والدارمي)
Kalian akan ditanya tentangku, maka apa yang kalian katakan? Mereka berkata: “Kami bersaksi sesungguhnya engkau telah menyampaikan, menunaikan, dan memberikan nasehat”. Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengangkat tinggi jari-jarinya yang mulia ke langit … dan beliau berkata: “Ya Allah saksikanlah”. (HR. Muslim, Abu Dawud dan Darimi)
Keterangan diangkatnya beberapa makhluk kepada Allah.
Peristiwa diangkatnya Nabi ‘Isa, kepada Allah سبحانه وتعالى juga menunjukkan tingginya Allah, karena kata “diangkat” adalah dari tempat yang rendah ke tempat yang tinggi.
بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا. ]النساء: 158[
Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat 'Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (an-Nisaa’: 158)
Sebagai contoh, kisah yang terdapat dalam al-Qur'an yang menceritakan pengingkaran Fir'aun kepada Musa, dengan menyuruh kepada Haman untuk membuat bangunan yang tinggi untuk melihat Rabb-nya Musa.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَاهَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَبْلُغُ اْلأَسْبَابَ. أَسْبَابَ السَّمَوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي َلأَظُنُّهُ كَاذِبًا. ]غافر: 36[
Dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta”. (Ghafir: 36)
- Renungkanlah ayat diatas wahai saudaraku.. seorang fir’aun yang kufur saja mengetahui bahwa Allah ada dilangit, lantas bagaimana dengan anda yang mengatakan bahwa anda beriman ternyata anda malah mengucapkan Allah ada dimana mana..?
Adanya riwayat-riwayat yang memberitakan bagaimana penduduk surga melihat wajah Allah, menunjukkan bahwa Allah tinggi di atas mereka.
Diriwayatkan dari shahabat Jarir bin Abdullah Radiyallahu ‘anhu, berkata Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam:
Sesungguhnya kalian akan dapat melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini. Kalian tidak berdesak-desakkan ketika melihat-Nya. (HR. Bukhari Muslim)
Dalam hadits di atas, yang diserupakan adalah “cara memandang” yakni ke atas seperti memandang bulan purnama. Hal ini menunjukkan tingginya Allah Ta’ala di atas makhluk-Nya.
Nash-nash tentang turunnya Allah ke langit dunia
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya) :
Allah Tabaraka wa Ta’ala akan turun ke langit dunia setiap malam ketika sepertiga malam yang terakhir, seraya berfirman: “Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, maka akan aku kabulkan; barangsiapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan menerima permintaannya; dan barangsiapa yang meminta ampunan dariKu maka Aku akan mengampuninya. (HR. Bukhari Muslim)
Al-Imam Malik ketika ditanya tentang makna istiwa` dalam firman Allah: “Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) bersemayam di atas ‘Arsy.” (Thaahaa:5)
Beliau menjawab: “Istiwa` itu sudah diketahui maknanya, yaitu “tinggi”. Sedangkan bagaimananya, tidak diketahui. Beriman dengannya adalah wajib dan menanyakannya adalah bid’ah.”
Al-Imam Abu Hanifah menulis kitab kecil berjudul “Sesungguhnya Allah itu di atas ‘Arsy.” Beliau menerangkan hal itu seperti dalam kitabnya “Al-’Ilm wal Muta’allim.”
‘Abdullah Ibnul Mubarak pernah ditanya: “Bagaimana kita mengetahui Tuhan kita?” Maka beliau menjawab: “Tuhan kita di atas langit, di atas ‘Arsy, berbeda dengan makhluk-Nya.” Maksudnya Dzat Allah berada di atas ‘Arsy, berbeda dan berpisah dengan makhluk-Nya dan keadaannya di atas ‘Arsy tersebut tidak sama dengan makhluk.
Abu Bakr Ash-Shiddiq berkata: “Barangsiapa menyembah Allah maka Allah berada di atas langit, Ia hidup dan tidak mati.” (Riwayat Ad-Darimiy dalam Ar-Radd ‘alal Jahmiyyah)
Rasulullah bersabda: “Sayangilah orang-orang yang ada di bumi maka Yang di langit (yaitu Allah) akan menyayangi kalian.” (HR. At-Tirmidziy)
Dari Mu’awiyyah bin Al-Hakam As-Sulamiy berkata: “Dulu aku mempunyai seorang budak wanita yang menggembalakan kambing-kambingku di daerah Uhud dan Jawwaaniyyah.
Suatu hari aku menengoknya, tiba-tiba ada seekor serigala membawa pergi salah satu kambingnya. Sedangkan aku adalah seorang laki-laki dari Bani Adam. Aku bisa marah sebagaimana orang lain pun bisa marah. Maka aku pun memukulnya sekali.
Kemudian aku mendatangi Rasulullah, maka beliau menganggap besar perbuatan yang telah kulakukan.
Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apakah aku merdekakan saja dia?” Beliau menjawab: “Bawa dia kepadaku!”
Maka setelah budak wanita tersebut dibawa ke hadapan beliau, beliau bertanya kepadanya: “Di mana Allah?” Dia menjawab: “Di atas langit.” Beliau bertanya lagi: “Siapa aku?” Budak itu pun menjawab: “Engkau adalah Utusan Allah.”
Setelah mendengar jawaban tersebut, beliau bersabda: “Merdekakan dia, karena dia adalah seorang wanita yang beriman.” (HR. Muslim no.537)
Berkata Al-Imam Abu Hanifah: “Siapa yang berkata: “Saya tidak tahu Tuhanku itu di mana, di langit ataukah di bumi.”, maka orang tersebut kafir. Demikian pula orang yang berkata: “Tuhanku itu di atas ‘Arsy, tetapi saya tidak tahu ‘Arsy itu di langit ataukah di bumi.” (Al-Fiqhul Absath hal.46; Lihat juga Majmuu’ul Fataawaa 5/48; Syarh Al-’Aqiidah Ath-Thahaawiyyah, Ibnu Abil ‘Izz hal.301;)
Abu Nu’aim menuturkan dari Ja’far bin ‘Abdillah, dia berkata: “Kami berada di rumah Malik bin Anas, kemudian ada orang datang dan bertanya, “Wahai Abu ‘Abdillah, Allah Yang Maha Pengasih istiwa` (bersemayam) di atas ‘Arsy, bagaimana caranya Allah beristiwa`?”
Mendengar pertanyaan itu, Al-Imam Malik marah. Beliau tidak pernah marah seperti itu. Kemudian beliau melihat ke tanah sambil memegang kayu di tangannya, lalu beliau mengangkat kepalanya dan melempar kayu tersebut, kemudian berkata: “Istiwa` itu sudah diketahui maknanya sedangkan bagaimana caranya Allah beristiwa` tidaklah dapat dicerna oleh akal. Beriman dengannya adalah wajib sedangkan menanyakannya adalah bid’ah. Dan saya kira kamulah pelaku bid’ah tersebut.” Kemudian Al-Imam Malik menyuruh orang itu agar dikeluarkan dari rumah beliau.” (Al-Hilyah 6/325-326; ‘Aqiidatus Salaf Ash-Haabul Hadiits hal.17-18; At-Tamhiid 7/151; Fathul Baarii 13/406-407)
sebuah pertanyaan yang selayaknya kita renungkan bagi diri kita seorang muslim yang menjadikan Alquran dan asuunah sebagai pedoman hidupnya adalah :
* darimana kita bisa tertipu dimana kita mengatakan Allah ada dimana mana, diurat leher, atau didalam hatiku. sementara Allah dan rasulnya telah jelas dan terang mengatakan bahwa Allah ada di langit..? ada diarsy..?
* betapa buruknya pengetahuan dan keimanan kita dimana seorang fir’aun yang kufur mengetahui dan meyakini bahwa Allah berada dilangit sementara kita yeng mengatakan bahwa kita adalah orang orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya mengatakan Allah ada dimana mana, di urat leher atau didalam hati, laa haula wala quwwata illa billah
Semoga Allah memberikan hidayah dan taufiknya bagi kita agar kita selamat dari syubhatnya para ahlul hawa dan bid’ah serta dari takwil nya orang orang jahil.
(artikel ini merupakan gabungan dari beberapa artikel disitus salafy.or.id)